(2) Yoskar Kadarisman
*corresponding author
AbstractTatung merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang masih bertahan hingga saat ini dan identik dengan perayaan Imlek maupun Cap Go Meh. Pada masyarakat Tionghoa, tatung tidak hanya dipahami sebagai bagian dari ritual budaya, tetapi juga memiliki makna spiritual dan kepercayaan tertentu. Di tengah perkembangan zaman modern, keberadaan tatung menjadi menarik untuk dikaji, khususnya pada generasi Z etnis Tionghoa yang hidup di era modernisasi namun tetap berada dalam lingkungan budaya leluhur yang masih dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana generasi Z etnis Tionghoa di Kota Pekanbaru memaknai tatung sebagai simbol kepercayaan, budaya, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan generasi Z etnis Tionghoa di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead untuk menganalisis makna tatung dalam kehidupan sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi Z Tionghoa di Pekanbaru memaknai tatung tidak hanya sebagai simbol spiritual, tetapi juga sebagai warisan budaya leluhur dan atraksi budaya yang memiliki nilai sosial serta pariwisata. Pengetahuan terhadap tatung diperoleh melalui lingkungan keluarga dan perayaan budaya seperti Imlek dan Cap Go Meh. Pengalaman interaksi dengan tatung juga membentuk cara pandang generasi muda terhadap budaya tersebut. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, tatung dipahami sebagai simbol yang dimaknai melalui proses interaksi sosial, pengalaman budaya, dan pewarisan nilai dari lingkungan masyarakat Tionghoa. KeywordsTatung, Generasi Z, Etnis Tionghoa, Interaksi Simbolik, Budaya
|
DOIhttps://doi.org/10.31604/jips.v13i6.2026.1562-1567 |
Article metrics10.31604/jips.v13i6.2026.1562-1567 Abstract views : 0 | PDF views : 0 |
Cite |
Full Text Download
|
References
Alkadrie, J. F., Hanifa, G. F., & Irawan, A. C. (2017).Dinamika Diaspora Subkultur Etnik Cina di Kota Singkawang. Intermestic: Journal of International Studies, 1(2), 130-143.https://doi.org/10.24198/intermestic.v1n2.4
Arisandi, I. B. (2024). Identitas Etnis Tionghoa dalam Cerpen Kompas dan Jawa Pos Tahun 2022. Arif: Jurnal Sastra Dan Kearifan Lokal, 3(2), 388–407.
Basith, A., & Hengky. (2017). Pola keyakinan masyarakat Tionghoa terhadap Tatung pada perayaan Cap Go Meh di kota Singkawang. Proceeding Jambore Konselor, 3, 14–18.
Cheung, A., Angelina, S., & Pradana, W. (2022). Perayaan Tionghoa di Indonesia. Tiong Gie.
Citraningsih, D., & Noviandari, H. (2022). Interaksionisme Simbolik: Peran Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan. Social Science Studies, 2(1), 72–86. https://doi.org/10.47153/sss21.3152022
Derung, T. N. (2017). Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat. SAPA - Jurnal Kateketik Dan Pastoral, 2(1), 118–131. https://doi.org/10.53544/sapa.v2i1.33
Emzir. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. PT Rajagrafindo Persada.
Faradita, D., & Putra, A. P. (2024). Sejarah Tradisi Sosia Budaya Cap Go Meh Pada Masyarakat Cina Benteng Di Kota Tangerang.
DEWARUCI: Jurnal Studi Sejarah Dan Pengajarannya, 3(1), 1–23.
Katon, F., & Yuniati, U. (2020). Fenomena Cashless Society Dalam Pandemi Covid-19 (Kajian Interaksi Simbolik Pada Generasi Milenial). Jurnal Signal, 8(2), 89–214. https://doi.org/10.33603/signal.v8i2.3490
Kholidi, A. K., Irwan, & Faizun, A. (2022). Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead di Era New Normal Pasca Covid 19 di Indonesia. At-Ta’Lim, 2(1), 1–12.
Lievander, D., Olivia, O., & Kuo, C.-I. (2017). Ritual Perayaan Imlek Etnis Tionghoa Di Kota Toli-Toli. Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture, 5(1), 10–17. https://doi.org/10.9744/century.5.1.10-17
Madona, D. (2017). Ritual Kremasi Etnis Tionghoa Di Rumah Duka Rumbai. JOM FISIP, 4(2), 1–14.
Nasution. (2011). Metode Research (Penelitian Ilmiah). PT. Bumi Aksara.
Putra, Z. A. W., & Wulanda, G. A. N. (2024). Refleksi Budaya Etnis Tionghoa dalam Kesenian Barongsai di Kota Singkawang. Besaung: Jurnal Seni, Desain Dan Budaya, 9(2), 289–300.
Ridna. (2015). Makna Simbolik Seni Pertunjukan Barongsai Dalam Kebudayaan Tionghoa Di Kota Pekanbaru. JOM FISIP, 2(1), 1–15. https://media.neliti.com/media/publications/31811-ID-makna-simbolik-seni-pertunjukan-barongsai-dalam-kebudayaan-Tionghoa-di-kota-peka.pdf
Stevenson, D., & Soeprapto, V. S. (2023). Studi Kasus Pertunjukan Atraksi Tatung Pada Perayaan Festival Cap Go Meh Untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan Di Kota Singkawang. Jurnal Fusion, 3(09), 910–925.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Suprapto, W. (2019). Cap Go Meh Sebagai Media Pendidikan Resolusi Konfik di Tengah Keragaman Etnis Kota Singkawang. PIPSI: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia, 4(1), 1–7.
Suri, A., & Irwansyah. (2021). Kampanye Kesehatan Covid 19 Di Media Sosial Dalam Perspektif Interaksionisme simbolik. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6(2), 578–587.
Suryadi, F. F., & Azeharie, S. S. (2020). Tatung Sebagai Budaya Masyarakat Tionghoa ( Studi Komunikasi Ritual Tatung di Singkawang ). Koneksi, 4(1), 90–97.
Theressa, G. (2017). PEDAGANG TIONGHOA DI PASAR TENGAH PEKANBARU (Studi kasus Jenis Komuditi Progres Bisnis). JOM FISIP, 4(2), 1–15. https://media.neliti.com/media/publications/204935-pedagang-Tionghoa-di-pasar-tengah-pekanb.pdf
Varanida, D. (2016). Komunikasi dalam Integrasi Sosial Budaya antar Etnis Tionghoa dan Pribumi di Singkawang. Jurnal Ilmu Komunikasi, 14(1), 13–21.
Varanida, D. (2018). Keberagaman Etnis dan Budaya sebagai Pembangunan Bangsa Indonesia. Proyeksi, 23(1), 36–46.
Widi, & Kartiko, R. (2010). Asas Metodologi Penelitian. Graha Ilmu.
Yulita, D. P., & Yulita, H. (2017). Tatung: perekat budaya di singkawang. Socia: Jurna Imu-Ilmu Sosia, 14(1), 1–7.
Refbacks
- There are currently no refbacks.






Download