(2) Ni Made Ari Wilani
*corresponding author
AbstractMencapai kesejahteraan subjektif (subjective well-being) adalah sesuatu yang dianggap penting bagi setiap individu, termasuk remaja. Namun, adanya kondisi keluarga yang tidak utuh atau broken home dapat berdampak terhadap subjective well-being remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat subjective well-being pada remaja dengan keluarga broken home dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian ini melibatkan tinjauan literatur dengan menganalisis teori-teori yang terdapat dalam jurnal, buku, dan artikel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan simplified approach method. Hasil penelitian literatur ini menyatakan bahwa terdapat faktor internal dan eksternal yang dimiliki remaja dengan keluarga broken home di Indonesia. Dalam hal ini, dukungan sosial lebih mendominasi dari adanya pembentukan subjective well-being pada seorang remaja yang berada dalam keadaan broken home.. KeywordsSubjective well-being, Broken home, Remaja.
|
DOIhttps://doi.org/10.31604/jips.v12i6.2025.2730-2738 |
Article metrics10.31604/jips.v12i6.2025.2730-2738 Abstract views : 0 | PDF views : 0 |
Cite |
Full Text Download
|
References
Adinda, A. R., Supangkat, B., & Mulyanto, D. (2023). Perceraian pada Etnik Melayu di Kota Pontianak Kalimantan Barat. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya, 9(4), 1071-1082.
Amanda, T. A., & Sujarwo, S. (2023). Subjective well-being Pada Remaja Yang Memiliki Keluarga Broken home. Jurnal Ilmiah Indonesia, 8(5). https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v8i3.11566
Amalia, R., & Pahrul, Y. (2019). Intervensi konselor sekolah untuk meningkatkan self esteem bagi anak keluarga broken home. Jurnal Pendidikan Tambusai, 3(1), 632-640.
Astuti, M., & Nisa Rachmah, N. A. (2015). Subjective well-being pada remaja dari keluarga broken home (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Astuti, Y., dan Anganthi, N. R. N. (2016). Subjective well-being Pada Remaja Dari Keluarga Broken home. Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No. 2,, 161- 175
Adiningsih, H.A., & Lestari, R (2017). Subjective well-being Pada Siswa SMP Yang Mengalami Broken home (Doctoral dissertation, Universitas Muhammdiyah Surakarta).
Ayulanningsih, A., & Karjuniwati, K. (2020). Welas Asih Diri dan Kesejahteraan Subjektif pada Remaja dengan Orang Tua Bercerai. Psikologika: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi, 25(1), 85–96. https://doi.org/10.20885/psikologika.vol25.iss1.art7
Azra, F. N. (2017). Forgiveness dan subjective well-being dewasa awal atas perceraian orang tua pada masa remaja. Psikoborneo, 5(3), 529-540.
Ba’diah, I. L., Rahayu, D., & Putri, E. T. (2021). Koping Berfokus Emosi dan Harapan terhadap Kesejahteraan Subjektif pada Remaja dengan Orangtua yang Bercerai. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(3), 646-656.
bps.go.id, “Informasi Umum BPS,†bps.go.id, Dec. 10, 2023. https://ppid.bps.go.id/app/konten/0000/Profil-BPS.html (accessed Dec. 10, 2023)
Cahyani, A., Mandang, J. H., & Kaumbur, G. E. (2023). Subjective well-being Wanita Dewasa Awal yang Mengalami Fatherless di Manado. Psikopedia, 4(4), 207-212.
Daulay, N. (2015). Kesejahteraan subjektif (subjective well being) dan harga diri pada remaja yang memiliki orangtua tunggal. Educators, 2(1), 1-17.
Diananda, A. (2019). Psikologi remaja dan permasalahannya. ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, 1(1), 116-133.
Diener, E. (2000). Subjective well-being: The science of happiness and a proposal for a national index. American Psychologist Journal, 55(1), 34-43.
Diener, E., & Ryan, K. (2009). Subjective well-being: A general overview. South African journal of psychology, 39(4), 391-406.
Diener, E., & Suh, E. (1997). Measuring quality of life: Economic, social, and subjective indicators. Social indicators research, 40, 189-216.
Dewi, K. S., & Soekandar, A. (2019). Kesejahteraan anak dan remaja pada keluarga bercerai di Indonesia: Reviu naratif. Wacana Jurnal Psikologi.
Fernandasari, F. A., & Dewi, D. K. Hubungan Antara Attachment Dengan Subjective well-being Pada Remaja Akhir Broken home
Hanania, V., & Garvin, G. (2022). Subjective Well Being, Perilaku Agresif dan Attributional Style Pada Remaja yang Berasal Dari Keluarga Broken home. Psibernetika, 15(1).
Here, S. v., & Priyanto, P. H. (2014). Subjective well-being Pada Remaja Ditinjau Dari Kesadaran
Kuswarini, T. Pengaruh Religiusitas, Humor Style, dan Self-esteem terhadap Happiness pada Remaja dari Keluarga yang Bercerai di Jakarta (Bachelor's thesis, Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Kona, B. C., Ranimpi, Y. Y., & Soegijono, S. P. (2019). Subjective well-being in Broken home Individual: A Case Study in Ambon. PSIKODIMENSIA, 18(1), 49-59.
Dewi, L., & Nasywa, N. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well-being. Jurnal Psikologi Terapan Dan Pendidikan, 1(1), 54-62.
Mantovani, D. G. (2023). Hubungan antara Pemaafan dengan Kesejahteraan Subjektif pada Remaja dari Keluarga Broken home
Marsh, I.C.,Chan,S.W.Y.,& Macbeth, A.(2017). Self-compassion and psychological distress in adolescents—ameta-analysis. Mindfulness, 9(4), 1011–1027
Munandar, A., Purnamasari, S. E., & Peristianto, S. V. (2020). Psychological well-being pada keluarga broken home. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 22(1), 46-52.
Nurhazizah, A. (2022). Peran Rasa Syukur terhadap Kebahagiaan Remaja Korban Perceraian. Jurnal Riset Agama, 2(1), 256-270.
Rahayu, H. S. (2020). Hubungan regulasi emosi dengan subjective well being pada remaja dengan orangtua bercerai. Cognicia, 8(2), 178-190.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: perkembangan remaja.
Sari, H. S. (2015). Studi mengenai penerapan Cognitive Behavior Therapy (CBT) terhadap pengelolaan rasa marah pada anak didik lapas (ANDIKPAS). Jurnal tidak diterbitkan, Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, Jatinangor.
Seligman, M.E.P. & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology: an introduction. Journal American Psychologist 55(1) 5 -14. doi:10.1037/0003 -066X.55.1.5
Shourie, Shruti & Kaur, Harsmeet. (2017). Subjective Well Being and Diffucuties With Emotion Regulation Among Adolesce. Journal of psychology reseach, 12, 217-222
Stapleton,B.P., Richardson,K., & Kalla,M. (2018). How aspects of self compassion contribute to wellbeing and the effect of age. International Journal of Health and Caring, 18(3), 1–12.
Urrahmah, C. S. (2023). Hubungan Forgiveness Dengan Subjective well-being Pada Remaja Korban Perceraian di Kec. Lembah Seulawah, Kab. Aceh Besar (Doctoral dissertation, UIN Ar-Raniry Banda Aceh).
Visita Here, S., Pius, D., & Priyanto, H. (2014). Subjective well-being Pada Remaja Ditinjau dari Kesadaran Lingkungan (Vol. 13, Issue 1).
Yárnoz-Yaben, S., & Garmendia, A. (2016). Parental divorce andemerging adults’ subjective well-being: The role of “carrying messagesâ€. Journal of Child and Family Studies, 25(2), 638–646. h t t p s : / / d o i . o r g / h t t p s : / / psycnet.apa.org/doi/10.1007/s10826- 015-0229-0
Refbacks
- There are currently no refbacks.






Download