(2) Gustiana A. Kambo
(3) Muhammad Saad
*corresponding author
AbstractDalam era globalisasi yang mengikis batas budaya, kuliner tradisional menjadi salah satu instrumen penting dalam mempertahankan identitas lokal sekaligus sebagai sarana diplomasi budaya. Dalam lokus yang luas, kuliner menjadi salah satu objek kajian sosial politik karena menyiratkan makna dan simbol dalam aspek implementasi aktivitas sosial politik dalam masyarakat lokal. Penelitian ini mengkaji degradasi makna kuliner tradisional Lawa Bale di komunitas Danau Tempe sebagai simbol budaya yang tidak netral, melainkan dipenuhi kepentingan politik dan ideologi. Dengan pendekatan dekonstruksi Derrida, penelitian ini menganalisis bagaimana Lawa Bale yang dulunya dimaknai sebagai bagian dari kesakralan dan harmoni ekologis, kini direduksi menjadi komoditas dalam diplomasi budaya dan pariwisata lokal. Peraturan Daerah Kabupaten Wajo No. 14 Tahun 2016 menjadi instrumen hukum yang mengatur sekaligus membentuk narasi representasi budaya dan ekologi. Penelitian ini menggambarkan berbagai kontradiksi biner diantaranya alam vs. budaya, pertumbuhan ekonomi vs. kelestarian lingkungan, lokal vs. global yang menjadi landasan wacana pembangunan dan diplomasi, namun menghadapi berbagai kontradiksi. Lawa Bale dihadirkan sebagai simbol identitas yang membawa jejak masa lalu, namun didegradasi oleh kepentingan ekonomi, ideologi, dan birokrasi kekuasaan. Dengan demikian, kuliner tradisional tidak hanya dapat dibaca sebagai ekspresi budaya, melainkan sebagai teks politik yang mengandung konflik representasi, kekuasaan, dan krisis ekologis yang disamarkan oleh pelestarian.
KeywordsDegradasi Budaya; Diplomasi Budaya; Ekologi Politik; Komunitas Danau Tempe; Lawa Bale.
|
DOIhttps://doi.org/10.31604/jim.v10i3.2026.%25p |
Article metrics10.31604/jim.v10i3.2026.%p Abstract views : 0 |
Cite |
References
Effendi, A. (2018). Kearifan Lokal dalam Perspektif Sosial dan Budaya. Ombak Yogyakarta.
II, B. B. W. S. (BBWS) S. (2021). Laporan sedimentasi Danau Tempe.
Indonesia, M. (2021). Danau Tempe terancam punah, nelayan Bugis terusir dari habitat budayanya. https://www.mongabay.co.id/2021/07/08/danau-tempe-terancam-punah-nelayan-bugis-terusir-dari-habitat-budayanya/
Kuntjorobekti, D. H., & Priyono, B. (2019). Ekologi Politik: Negara, Kapital, dan Gerakan Rakyat. LKiS Yogyakarta.
Kurniawan, F., & Handayani, R. S. (2022). Masalah Pelaksanaan Fungsi Partai Politik dan Dampaknya Terhadap Konsolidasi Demokrasi di Indonesia. JDPL (Jurnal Demokrasi Dan Politik Lokal), 4(2), 128–145.
Mahendra, I. G. N. (2023). From hearth to heritage: Traditional cuisine in the age of globalization – A case study from Bali, Indonesia. International Journal of Gastronomy and Food Science, 31.
Moleong, L. J. (2014). Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. PT. Remaja Rosdakarya.
Nababan, A. (2020). Krisis Ekologi dan Masyarakat Adat di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.
Pratiwi, S., & Wicaksono, A. (2022). Traditional food as a cultural diplomacy tool: Case study of Indonesian culinary promotion in ASEAN. Indonesian Journal of Social and Political Communication, 5(1), 45–60.
Pratiwo, H. (2019). Komodifikasi Budaya Lokal dalam Festival Wisata: Studi Kasus Festival Pacu Jalur di Riau. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 23(1), 45–56.
Putri, D. S., & Susilowati, I. (2022). The commodification of local culture in rural tourism: A case study of Yogyakarta, Indonesia. Journal of Rural and Community Development, 17(3), 112–127.
Rahayu, T., & Palupi, R. (2023). Local wisdom and the politics of representation in coastal communities of Eastern Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (JSP), 26(3), 210–224.
Ridwan, M. (2017). Budaya Politik Orang Bugis. Pustaka Refleksi.
Robbins, P. (2012). Political Ecology: A Critical Introduction (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Saleh, K., & Munif, A. (2015). Membangun Karakter Budaya Politik Dalam Berdemokrasi. Addin, 9(2), 309–332.
Sari, D. M. M. (2022). DIGITAL LITERACY AND ACADEMIC PERFORMANCE OF STUDENTS’ SELF-DIRECTED LEARNING READINESS. ELite Journal : International Journal of Education, Language and Literature, 2(3), 127–136. https://doi.org/https://doi.org/10.26740/elitejournal.v2n3.p127-136
Setiawan, B. (2022). Deconstructing cultural policy in post-authoritarian Indonesia: The case of regional identity construction. Asian Politics & Policy, 14(3), 401–418.
Syamsuddin, M. R., & Wahyuni, S. (2023). Sedimentation and socio-ecological change in Lake Tempe, South Sulawesi: A political ecology perspective Title. Journal of Environmental Management and Sustainability, 10(2), 89–103.
Tan, M. L., & Lim, K. (2023). Greenwashing culture: The use of cultural narratives in sustainable development projects in Southeast Asia. Asia Pacific Viewpoint, 64(2), 192–206.
Wahyuni, H. I. (2021). Komodifikasi Budaya: Globalisasi dan Representasi Lokal. Jalasutra.
Windia, I. W. (2020). Tradisi, Identitas, dan Perubahan Sosial: Studi Antropologi Budaya. Pustaka Larasan.
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.









