KESERASIAN SOSIAL DAN POLITIK DALAM MASYARAKAT “BERBILANG KAUM” DI KOTA SIBOLGA

Andes Fuady Dharma Harahap, Ahmad Husein Nst, Darmasyah Pulungan, Novila Sari, Anggun Fadillah, Fitri Isnaini Harahap, Nadia Hasibuan, Nurpadilah Pulungan, Khoiruddin Khoiruddin, Ihwan Riski Ananda, Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah, Ahmad Alwi, Novi Sihombing, Delfina Daulay, Putri Lestari Koto, Ahmad Bukhori, Sofyan Sauri Nasution, Fajri Alam Sani, Juliana Simatupang, Siti Salamah, Gunawan Sandi, Dewi Sukma, Machmul Akbar, Muhammad Dodi Saputra, Sindi Silviyani Siregar

Abstract


Tujuan penelitian ini untuk melihat sejauh mana implementasi konstruksi keragaman masyarakat Indonesia di Kota Sibolga yang dikenal sebagai “Negeri Berbilang Kaum”.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahasa pesisir sebagai bahasa pemersatu diantara etnis yang berbeda, sehingga keberadaan bahasa pesisir tersebut dapat mendukung terciptanya masyarakat yang serasi dan rukun. Kondisi keserasian sosial ini juga terlihat dari adanya Adat Sumando sebagai adat pemersatu dalam setiap perkawinan yang dilakukan. Adat Sumando adalah pertambahan atau percampuran satu keluarga dengan keluarga lain yang seagama, yang diikat dengan tali pernikahan menurut hukum Islam dan disahkan dengan suatu acara adat Pesisir. Adat ini merupakan campuran dari hukum Islam, adat Minangkabau, dan adat Batak. Keberadaan Adat Sumando inilah yang membuat kota ini menjadi lebih unik, dimana ketika etnis Batak yang sudah masuk ke dalam Adat Sumando yang notabene beragama Islam, maka marga yang ada tetap dipakai. Hal inilah membuat masyarakat yang bermarga Batak tetapi beretnis Pesisir. Dari hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa ada beberapa faktor pendukung terciptanya keserasian sosial dalam masyarakat multi etnis di Kota Sibolga sebagai berikut: Pertama; faktor historis, dimana sejak berdirinya kota ini telah ramai di kunjungi oleh pendatang dari berbagai daerah dan beragam etnis yang terjalin dalam interaksi sosial yang harmonis sehingga menjadikan kota ini sebagai kota yang dinamis dan terbuka serta menjadi kota yang mapan dalam mengelola masyarakat yang harmonis dalam keberagaman (harmony in diversity). Kedua; faktor adaptasi, dimana kemampuan masyarakat yang tinggal di kota ini dalam menguasai bahasa Pesisir dalam berinteraksi sehari-hari, sehingga kemampuan adaptif inilah yang membuat masyarakat hidup serasi dan rukun. Ketiga; faktor demografi dan pola pemukiman, dimana dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi di kota ini mengakibatkan pola pemukiman membaur yang cenderung meniadakan garis pemisah (border line) atau mereduksi komunikasi yang terbatas, sehingga dapat meningkatkan interaksi dan kontak sosial yang semakin intens.


Keywords


Keserasian Sosial, Adat Sumando, Masyarakat Multi Etnis, Bahasa Pesisir

Full Text:

PDF

References


Alam, Syahril. 1993. Bandar Dagang Di Pantai Barat Sumatera. Jakarta: Bumi Aksara.

Faisal, Sanafia. 2007. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Furnivall, J. S. 1944. Netherlands India. A Study of Plural Economy. Cambridge: The

University Press.

Geertz, Clifford. 1992. Politik Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Haryanto dkk,. 2010. Sistem Sosial Budaya Indonesia. Edisi I, Cetakan ke-6. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Sujanto, Bedjo. 2007. Pemahaman Kembali Makna Bhinneka Tunggal Ika. Jakarta: Sagung Seto.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Wirutomo, Paulus. 2012. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: UI-Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.31604/jips.v10i12.2023.5414-5427

Article Metrics

Abstract view : 443 times
PDF - 168 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.