MEMAHAMI KONSEP KARL MARX "AGAMA ADALAH CANDU MASYARAKAT" DALAM PERILAKU BERIBADAH JEMAAT SEMAU UTARA, KLASIS SEMAU

(1) * Arly E.M. de Haan Mail (Fakultas Teologi-Universitas Kristen Artha Wacana Kupang-Nusa Tenggara Timur, Indonesia)
(2) Anika Chatarina Takene Mail (Fakultas Teologi-Universitas Kristen Artha Wacana Kupang-Nusa Tenggara Timur, Indonesia)
*corresponding author

Abstract


Jemaat Semau Utara terletak di Pulau Semau, Kupang-Nusa Tenggara Timur. Jemaat ini terdiri atas dua suku besar yaitu Helong dan Rote, yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani musiman (ladang dan rumput laut. Pekerjaan yang tidak tetap membuat keadaan ekonomi jemaat ini sulit dan terpapar kemiskinan. Meskipun demikian, jemaat terlibat aktif dalam berbagai kegiatan peribadahan yang diprogramkan Gereja, dengan asumsi bahwa ibadah dilakukan untuk mendapatkan kenyamanan dan ketenangan sejenak dari berbagai kesulitan hidup.

Sejalan dengan asumsi di atas, kami menemukan adanya konteks yang kurang lebih sama dengan masyarakat pada masa Marx, yang juga berada dalam tekanan sosial-ekonomi yang berat. Masyarakat ini "berlari" untuk mendapatkan kenyamanan di dalam gereja, yang melalui ajarannya menekankan tentang kehidupan dan kebahagiaan yang kekal. Marx melakukan kritik kepada gereja waktu itu dengan konsepnya die religion, ...ist das opium des Volkes (agama adalah opium bagi masyarakat). Agama memiliki kekuatan yang besar dengan membentuk ilusi akan kebahagiaan di dalam pikiran manusia dan menjadi semacam ‘opium’ bagi orang-orang yang sakit sebab bisa meredakan penyakit dan kesengsaraan. Bagi Marx, kesadaran palsu yang diciptakan oleh agama melalui ajarannya, dapat melemahkan perlawanan terhadap ketertidasan, juga upaya keluar dari kemiskinan.

Kondisi seperti inilah yang juga dialami oleh Jemaat Semau Utara yang mengedepankan nilai panggilan, nilai janji dan hukuman, serta nilai kebersamaan dalam komunitas. Bagi mereka, keterlibatan dalam aktivitas pelayanan melebihi apapun, termasuk upaya untuk keluar dari ketertindasan dan kemiskinan. Berhadapan dengan keadaan seperti ini, gereja harus menjadi agent of change, yang mengubah pola pikir, bersama menemukan potensi dan peluang sehingga terciptanya transformasi sosial di Jemaat Semau Utara.


Keywords


Konsep Karl Marx, Perilaku Beribadah , Jemaat Semau Utara

   

DOI

https://doi.org/10.31604/jips.v8i6.2021.1596-1609
      

Article metrics

10.31604/jips.v8i6.2021.1596-1609 Abstract views : 0 | PDF views : 0

   

Cite

   

Full Text

Download

References


Achmad Lutfi, Agama sebagai Tempat Pelarian Diri (?) dalam Jurnal Ilmu Dakwah dan Pembangunan, vol XIV no. 1 Tahun 2019, hlm. 8.

Ahmad Muttaqin, Karl Marx dan Friedrich Nietzsche tentang Agama dalam Jurnal Komunika, Vol. 7, No 1 Januari-Juni 2013, Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto, hlm 5

Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 1996), hlm. 139.

Dare Ojo Omonijo, Religion as the Opium of the Masses: A Study of the Contemporary Relevance of Karl Marx, dalam Asian Research Journal of Arts & Social Sciences 1(3):1-7, 2016, hlm. 4

David R. Ray, Gereja yang hidup, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, hlm. 128

Doyl Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta: Gramedia, 1988, hlm. 139

E. Martasudjita, Makna Liturgi Bagi Kehidupan Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius 1998, hlm.12.

Elizabeth K. Nottingham, Agama Dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 26

Fredik L. Benu, Gereja Menghadapi Tantangan Teknologi, Ekonomi dan Kemiskinan, dalam GMIT hadir di panggung kehidupan, Kupang: Majelis Sinode GMIT, 2019. hlm. 242.

George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Prenamedia Group, 2014. hlm. 32

James Luchte, Marx and The Sacred, Journal of Church and State vol. 51 no. 3, 2009, hlm.418.

James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, hlm. 7

J.J. von Allmen, Worship: Its Theology and Practice, 1965, hlm. 64

Karen Campbell-Nelson, Anjing di Bawah Meja, dalam Kasihilah Allah, Ajarlah Dunia, D.J. Mauboy, dkk (edt.), Kupang: Artha Wacana Press, hlm.167.

Koerniatmanto Soetoprawiro, Bukan Kapitalisme, Bukan Sosialisme, Yogyakarta: Kanisius, 2003. Hlm. 55-56

M. Misbah, Agama dan Alienasi Manusia: Refleksi atas Kritik Marx terhadap Agama, dalam Jurnal KOMUNIKA, vol.9, no. 2 Juli-Desember 2015, hlm.198. Peter Beilharz, Teori-teori Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hlm 271-274.

Raymond Geuss, The Idea of Critical Theory, New York: Cambridge University Press, 1981, hlm. 5-26.

Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali, 1992. hlm.105

Yaksih Nuban Timo, Refleksi Teologi Tentang Pemberdayaan Ekonomi Jemaat dalam GMIT hadir di panggung kehidupan, Kupang: Majelis Sinode GMIT, 2019. hlm. 310.

Program Pelayanan Jemaat Emaus Tutun/Tiberias Koblain, 2019.

Sekretariat Gereja Emaus Tutun/Sekretariat Gereja Tiberias Koblain, Juli-September 2019


Refbacks

  • There are currently no refbacks.