(2) Desi Albert Mamahit
(3) Budiman Djoko Said
(4) Pujo Widodo
(5) Herlina Juni Risma Saragih
(6) Panji Suwarno
*corresponding author
AbstractProvinsi Aceh di Indonesia memiliki status khusus dan otonomi khusus yang memungkinkan masyarakatnya untuk melakukan gerakan adat Panglima Laot, yang memiliki peran dalam mengatur cara penangkapan ikan, menengahi sengketa di antara nelayan, dan mempertahankan keamanan perairan. Sementara itu, Bakamla Aceh dan Lanal Aceh merupakan lembaga penegak hukum yang memfokuskan pengawasan keamanan maritim. Namun, keberadaan Panglima Laot menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana komunikasi dan sinergi antara Panglima Laot, Bakamla, dan Lanal dapat berjalan dengan baik. Dalam studi ini, pendekatan yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan teknik wawancara daring sebagai metode pengumpulan data. dengan Panglima Laot Kota Sabang, Lanal Sabang, dan Bakamla. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Panglima Laot Aceh dan lembaga penegak hukum laut lainnya memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keamanan laut, terdapat perbedaan pada wilayah operasi, status kelembagaan, wewenang, dan tugas masing-masing. Panglima Laot Aceh sebagai kelembagaan adat tradisional memiliki keterikatan yang kuat dengan masyarakat setempat dan memiliki pengetahuan mendalam tentang kondisi perairan di wilayahnya, sehingga dapat menjadi mitra penting bagi Bakamla dan Lanal dalam menjaga keamanan maritim di Aceh. Sinergi yang baik antara Panglima Laot, Bakamla, dan Lanal dapat ditingkatkan melalui komunikasi yang terbuka dan koordinasi yang efektif. KeywordsPanglima Laot, Sinergi, Keamanan Maritim, Aceh
|
DOIhttps://doi.org/10.31604/jips.v10i2.2023.833-839 |
Article metrics10.31604/jips.v10i2.2023.833-839 Abstract views : 0 | PDF views : 0 |
Cite |
Full Text Download
|
References
Pranita, A. M., Savitri, E. I., Mu’aqaffi, G., Said, B. D., & Yulianto, B. A. (2021). PERAN PANGLIMA LAOT DALAM UPAYA MEWUJUDKAN ECOLOGICAL SECURITY DI ACEH. Jurnal Education and Development, 9(3), 131-138.
Bustamam-Ahmad, K. (2017). A Study of Panglima La’Åt: An ‘Adat Institution in Aceh. Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies, 55(1), 155-188.
Evan A. Laksmana (2019): Reshuffling the Deck? Military
Corporatism,Promotional Logjams and Post-Authoritarian Civil-Military Relations in Indonesia, Journal of Contemporary Asia.
Maulana, N. 2018. Peran Nelayan dalam Membantu Instansi Penegak Hukum Laut untuk Mencegah Ancaman Keamanan Maritim. Jurnal Pertahanan dan Bela Negara.
Octavian, A. 2012. Globalisasi dan Militer: Studi Sosiologi Militer dalam Konteks Globalisasi dan Kontribusinya bagi Transformasi TNI. UI Press.
Syahputra. 2018. Community Surveillance: How To Incorporate Customary Community In Monitoring Marine Area (Study Case Panglima Laot In Aceh). IOP Conf.
Utama, M. P., Rochwulaningsih, Y., & Sulistiyono, S. T. (2020). Transformation of Panglima Laot in Aceh: From Punggawa to Customary Institution. In E3S Web of Conferences (Vol. 202, p. 07031). EDP Sciences.
Wilson, C., & Linkie, M. (2012). The Panglima Laot of Aceh: a case study in large-scale community-based marine management after the 2004 Indian Ocean tsunami. Oryx, 46(4), 495-500.
Refbacks
- There are currently no refbacks.






Download