KONSEP NAFKAH BAGI SUAMI PRA BALIGH PERSPEKTIF IMAM SYAFI’I

Ahmad Aris Kasanova, Imam Sukardi

Abstract


Tidak sedikitnya kasus lelaki menikah sebelum akil baligh, dan kewajiban suami untuk memberi nafkah secara ma’ruf, penulis tertarik untuk meneliti bagaiamana pendapat Imam Syafi’i mengenai wajibnya suami yang belum akil baligh dalam memberi nafkah kepada istri. Nafkah berarti kewajiban yang harus dipenuhi berupa pemberian belanja yang berkaitan dengan kebutuhan pokok, antara lain suami kepada istri dan suami kepada anak-anaknya atau keluarga besarnya. (1) Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis: menjelaskan pendapat Imam Syafi'i tentang konsep penghidupan suami Pra Baligh. (2) Menjelaskan metode Iatinbath Imam Syafi'i tentang konsep penghidupan mantan suami Balif. Penelitian ini merupakan penelitian (library research) dengan menggunakan data berdasarkan dokumen primer dan dokumen sekunder yang berkaitan dengan masalah penelitian.  Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu melalui metode berpikir berjalan dan induktif.  Sehingga  dapat  diperoleh  gambaran  pemikiran  Imâm Syâfi‘ī tentang konsep nafkah bagi suami pra baligh dengan jelas. Penelitian ini menunjukkan bahwa Pemikiran Imâm Shâfi’i dalam konsep nafkah bagi suami pra baligh  mempunyai dampak dalam kajian ini. Ada beberapa pendapat yang telah di kemukakan oleh imam syafi’i terkait konsep nafkah,imam  syafi’i berpendapat bahwa apabila si suami belum baligh bebitu pula istrinya maka sang suami wajib memberikan nafkah kepada istri. Alasan kenapa tetap diwajibkan karena disitu terdapat mani’ (penghalag) dari kedua belah pihak. jika suami sudah baligh dan istri belom baligh maka suami tetap wajib memberikan nafkah. Mengapa suami tetap wajib memberikan nafkah alasanya yaitu karena mani’ (penghalang) dari salah satu belah pihak saja, maka disini suami tetap wajib memberikan nafkah.


Keywords


Nafkah; Pra Baligh; Imam Syafi’i

Full Text:

PDF

References


Al-Bantani, S. M. N. (2011). Kasyifah as-Saja Syarh Safinatu an-Naja. Dar Ibnu Hazm.

Al-Haitami, I. I. H. (2016). Kitab Tuhfatul Muhtaj Syarah al Minhaj. Darul Hadis.

Asy-Syaukani, I. M. bin A. bin M. (2007). Fathul Qodir Al-Jami’ Baina Fannair Riwayah Wad-Diroyah Min Ilmit Tafsir. Darul Ma’rifah.

Bastomi, H. (2016). Pernikahan Dini Dan Dampaknya (Tinjauan Batas Umur Perkawinanmenurut Hukum Islam Dan Hukum Perkawinan Indonesia). YUDISIA: Jurnal Pemikiran Hukum Dan Hukum Islam, 7(2), 354–384.

Juzairi, A. Al. (2015). Al fiqh ‘Ala Madzahibil Arba’ah. Pustaka Al Kautsar.

Moleong, L. J. (2015). Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Qudamah, I. (1999). Al Mughni Li Ibni Qudamah. Dar Alamiyyah.

Rasjid, S. (1994). Fiqih Islam. Sinar Baru Algensindo.

Sabiq, S. (1971). Fiqh Sunnah, Jilid 2. Darul Fikr.

Syafi’i, I. A. A. M. bin I. A. (n.d.). Al-Umm. C.V. Faizan.

Wahbah Az-Zuhaili, B. P. & A. H. A.-K. (2011). Fiqih Islam wa Adillatuhu. Gema Insani.




DOI: http://dx.doi.org/10.31604/jips.v9i1.2022.331-342

Article Metrics

Abstract view : 317 times
PDF - 166 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.