Deteritorialisasi Lingkungan dan Bentuk-Bentuk Alih Fungsi Lahan Basah di Kabupaten Banjar (Studi di Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Gambut)

M Najeri Al Syahrin, Ismar Hamid

Abstract


Deteritorialisasi lingkungan yang dilakukan dengan penggunaan dalih industrialisasi dan pembangunan akhirnya menciptakan krisis ekologi dan membentuk permasalahan secara konstan terhadap perubahan lanskap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana deteritorialisasi lingkungan dan bentuk-bentuk alih fungsi lahan di Kabupaten Banjar secara khusus yang dilakukan di area studi yakni Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Gambut. Selain itu, penelitian ini juga dimunculkan untuk merespons dinamika ekspansi pengalihfungsian lahan baik yang dilakukan korporasi (industri), pemerintah maupun oleh masyarakat. Penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan instrumen observasi live in, FGD dan in depth interview, yang dikolaborasikan dengan studi literatur untuk menelaah dan memahami bagaimana deteritorialisasi lingkungan lahan basah dan bentuk-bentuk alih fungsi lahan yang dilakukan. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa di Kabupaten Banjar kepentingan perluasan kota menjadi aspek paling dominan dalam menyebabkan masifnyaalih fungsi lahan basah. Dimana pembangunan perumahan di Kecamatan Kertak Hanyar dan gudang industri di Kecamatan Gambut merupakan bentuk alih fungsi lahan basah yang paling dominan. Adapun bagian-bagian dari ekosistem yang paling banyak dialihfungsikan adalah lahan-lahan yang sebelumnya digunakan untuk lahan pertanian, wilayah rawa-rawa yang sebelumnya menjadi penyedia kebutuhan ikan bagi masyarakat, serta sungai-sungai kecil dan sedang yang sebelumnya berfungsi sebagai jalur air untuk lahan pertanian dan sarana transportasi bagi masyarakat. Deteritorialisasi dan alih fungsi lahan ini tentu memberikan beberapa implikasi serius tidak hanya bagi lingkungan lahan basah secara fisik saja namun juga turut memberikan dampak terhadap perubahan sosio-kultural masyarakat.


Full Text:

PDF

References


Andrade, G. S. M., and J. R. Rhodes. (2012). Protected areas and local communities: an inevitable partnership toward successful conservation strategies? Ecology and Society 17(4): 14.

BBC. (2020). Floods in South Kalimantan were 'triggered' by reduced primary and secondary forest areas, KLHK: 62.8% decrease in forest area in the Barito watershed. More at https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55696841. Accessed on Feb 2, 2021.

BPS Kabupaten Banjar. (2020). PDRB Kabupaten Banjar Menurut Lapangan Usaha 2015-2019. Martapura.

BPS Kabupaten Banjar. (2020). PDRB Kabupaten Banjar Menurut Pengeluaran 2015-2019. Martapura.

BPS Provinsi Kalimantan Selatan. (2019). PDRB Kalimantan Selatan Menurut Lapangan Usaha. Banjarmasin

BPS Provinsi Kalimantan Selatan. 2019. Gambaran Ekonomi Makro Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan II-2020 (April-Juni). Banjarmasin.

Goldblatt D. (2015). Critical Ecological Analysis. Resist Book, Yogyakarta. 77-92.

Jha, S. (2008). Status and conservation of lowland Terai wetlands in Nepal. Our Nature 6(1):67-77.

Krisnaningtyas, T & Trimarmanti, E. (2014). Evaluation of Subdistrict Land Use Changes in the Cisadane Watershed, Bogor Regency. Regional and Environmental Journal. 2 (1):55-72.

Lamsal, P., K. P. Pant, L. Kumar, and K. Atreya. (2015). Sustainable livelihoods through conservation of wetland resources: a case of economic benefits from Ghodaghodi Lake, western Nepal. Ecology and Society 20 (1): 10.

Lannas, K. S. M., and J. K. Turpie. (2009). Valuing the provisioning services of wetlands: contrasting a rural wetland in Lesotho with a peri-urban wetland in South Africa. Ecology and Society 14(2): 18.

Millennium Ecosystem Assessment. (2005). Ecosystems and human well-being: wetlands and water synthesis. World Resources Institute, Washington, D.C., USA. [online] URL: http://www. unep.org/maweb/documents/document.358.aspx.pdf.

O’Connell, M. J. (2003). Detecting, measuring and reversing changes to wetlands. Wetlands Ecology and Management 11 (6):397-401.

Pemerintah Kabupaten Banjar. (2005). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Banjar Tahun 2005 – 2025. Bappedalitbang Kabupaten Banjar.

Pemerintah Kabupaten Banjar. (2008). Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 06 Tahun 2008 Tentang Pemekaran Kecamatan Kertak Hanyar Dan Pembentukan Kecamatan Tatah Makmur Dalam Wilayah Kabupaten Banjar.

Pemerintah Kabupaten Banjar. (2016). Statistik Daerah Kecamatan Gambut Tahun 2016.

Pemerintah Kabupaten Banjar. (2016). Statistik Daerah Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2016.

Rahmadian, F. (2018). Political Economy Analysis of Oil Palm Plantation Expansion: Actors and Deterritorialization. Thesis. IPB University. Bogor

Terer, T., G. G. Ndiritu, and N. N. Gichuki. (2004). Socio-economic values and traditional strategies of managing wetland resources in Lower Tana River, Kenya. Hydrobiologia 527:3-14.

Williams, W. D. (2002). Community participation in conserving and managing inland waters. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems 12(3):315-326.

Xie, Z., X. Xu, and L. Yan. (2009). Analyzing qualitative and quantitative changes in coastal wetland associated to the effects of natural and anthropogenic factors in a part of Tianjin, China. Estuarine, Coastal and Shelf Science 86(3):379-386.




DOI: http://dx.doi.org/10.31604/jim.v8i2.2024.827-835

Article Metrics

Abstract view : 231 times
PDF - 95 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.